-->

Polisi Masih Dalami Kasus Tewasnya Andreas Neksi Lambatir

Polisi Masih Dalami Kasus Tewasnya Andreas Neksi Lambatir SAUMLAKI, LELEMUKU.COM - Kepolisian Resort (Polres) Maluku Tenggara Barat (MTB), Provinsi Maluku masih mendalami kasus tewasnya Andreas Neksi Lambatir (42), warga Kota Larat, Kecamatan Tanimbar Utara yang mayatnya ditemukan pada Minggu (4/11) lalu di Pantai Pasir Pendek, Desa Lelingluan.

Menurut Kasat Reskrim MTB, Iptu Jonatan Sutrisno pihaknya melalui Kepolisian Sektor (Polsek) Tanimbar Utara saat ini terus berupaya melakukan penyelidikan guna mengungkap kasus yang sudah sepekan ini masih menggantung. Termasuk mengamankan dan meneliti barang bukti diantaranya topi korban, batang kayu dan darah dari TKP.

""Penyidik baik polres dan polsek masih terus lakukan pengembangan untuk mengumpulkan bukti-bukti diantaranya mencoba untuk memaksimalkan lagi keterangan-keterangan saksi untuk dipertajam lagi. Baik penyidik Polsek maupun Polres yang membackup penanganan kasus disana sudah mengambil langkah-langkah diantaranya sudah melakukan olah TKP, kita juga sudah melakukan pemeriksaan kepada beberapa orang saksi diantaranya kelima teman korban yang bersama-sama pergi memancing pada saat itu," ujar dia kepada wartawan pada Sabtu (10/11).

Terkait lima saksi yang menjadi kunci terungkapnya kasus ini, dikatakan masih perlu pendalaman sebab belum ada titik terang yang mengarah pada pelaku pembunuhan tersebut.

"Keterangan dari kelima teman korban belum memberikan arah kepada seseorang yang sifatnya melakukan sesuatu tindakan kekerasan terhadap korban, hingga menyebabkan korban meninggal dunia," papar dia.




Sementara terkait tudingan keluarga terhadap salah satu saksi, SW. Dikatakan hal itu juga akan didalami, sehingga kasus ini dapat dibongkar dan pelakuknya dapat ditahan.

"Untuk saksi SW,  pada intinya mereka bersama-sama berboncengan dengan teman lainnya ke TKP. Apakah korban dengan SW ada hubungan baik, bagaimana kesehariannya, sebelum kejadian ini apakah mereka ada masalah, ada hubungan bisnis atau hal yang bisa menimbulkan emosional atau dendam. Hal-hal inilah yang perlu kita dalami," papar Sutrisno.

Kepolisian juga, ungkap Kasat Reskrim, akan menjalin komunikasi dengan semua pihak guna mencari tahu latar belakang dari korban.

"Kami juga telah berkoordinasi dengan keluarga korban untuk meminta bantuan partisipasi mungkin bisa mencari tau keberadaan korban sehari-hari, apakah ada masalah sebelumnya atau persoalan-persoalan lain yang bisa menimbulkan kecemburuan diantara teman-temannya," ujar dia.

Sementara hasil pemeriksaan terhadap jenazah Andreas yang mengenaskan saat ditemukan,  Sutrisno menyatakan hal itu harus dikonfirmasi ke dokter yang saat itu bertugas melakukan pemeriksaan korban.

"Kami tidak punya kewenangan mengomentari kondisi mayat dan memberikan kesimpulan dan penilaian, kenapa bisa sampai begitu, sebab yang bisa mengomentari dari dokter.  Intinya kami akan terus berupaya lakukan penyelidikan guna ungkap kasus ini," tandas dia.
 
Orang Baik-Baik

Sebelumnya kepada wartawan, salah perwakilan keluarga korban di Saumlaki, Johanis Kopong menyatakan Andreas yang ditemukan tewas di pantai pasir pendek merupakan pria baik-baik yang tidak bermasalah dengan warga di Kota Larat.

"Andreas sudah berumah tangga, memiliki satu istri dan 3 orang anak. Dia dikenal ramah dengan siapa saja dan suka membantu orang-orang disekitarnya," ungkap dia  pada Kamis (8/11).

Dikatakan pada Jumat (2/11) jam 8 malam korban dijemput dirumahnya dan diajak oleh 5 orang temannya yakni SW, YM, AS, AS dan M untuk pergi memancing di Pasir Pendek yang lokasinya jauh dari Kota Larat. Andreas dibonceng dengan sepeda motor oleh SW.

Ketika mereka selesai memancing, kelima teman korban kembali ke Larat tapi mereka tidak bersama sama dengan korban. Mereka mengira korban sudah pulang lebih dahulu dari lima orang itu.

"Mereka mengatakan bahwa korban pulang lebih awal, sementara korban sewaktu pergi dibonceng oleh temannya. Bagaimana korban bisa pulang sementara diseputaran tempat itu tidak ada kendaraan lain dan tempatnya pun jauh dari jalan utama," ujar adik ipar dari korban tersebut.

Kopong menyatakan, keterangan dari kelima teman korban juga berbeda-beda, sehingga pihak keluarga menjadi bingung dan tidak mempercayai pernyataan tersebut. Sehingga pihaknya melaporkan hal ini ke Polsek Tanut dan majelis gereja guna mencari korban yang hilang selama dua hari tersebut.

"Setelah hilangnya korban, pencarian pun dilakukan dibantu pihak keamanan dan warga setempat. Akhirnya dua hari kemudian barulah korban ditemukan dibawah pohon lontar dengan tubuh yang sangat mengenaskan, tubuh membengkak, berwarna hitam, mulai membusuk dipenuhi belatung," kata dia.

Tanda-Tanda Penganiayaan
Sementara menurut keluarga korban di Larat, Paula Tan, ditubuh korban terdapat bekas tanda luka dikepala dan rambut dikepala yang terkelupas yang diduga ada unsur penganiyaan. Sementara korban sendiri sebelum ditemukan meninggal tidak mengidap sakit apapun.

"Sementara jenazah korban terletak di tempat landai yang jauh dari pantai serta tempat tinggi yang bisa mengakibatkan kecelakaan baik tenggelam maupun jatuh dari ketinggian. Ditempat tersebut juga ditemukan sepotong kayu dengan bercak darah tak jauh dari posisi korban," kata dia.

Polisi Masih Dalami Kasus Tewasnya Andreas Neksi Lambatir Paula menjelaskan, korban dibawah ke RSUD, dr. D.Anatototi Kota Larat untuk diperiksa namun belum dilakukan autopsi dikarenakan dokter tidak berada di tempat. Sedangkan keluarga sangat berharap agar jenazah korban dapat di autopsi. Mayat korban kemudian diserahkan kepada pihak keluarga di Larat untuk dilakukan proses pemakaman pada hari itu juga.

Namun setelah seminggu korban ditemukannya dan ditangani oleh kepolisian, pihaknya belum mendapatkan informasi terbaru terkait perkembangan kasus tersebut sebab belum ada bukti kuat yang menunjukan adanya dugaan pembunuhan. Sehingga keluarga meminta agar pihak keamanan dapat segera mengungkap kejadian ini.

"Kami meminta keadilan dari Polsek Tanimbar Utara dan Polres MTB untuk serius menindak lanjuti persoalan tersebut. Jangan sampai kasus ini berlarut-larut pada akhirnya tidak terselesaikan. Sementara pelaku pembunuhannya bisa bebas berkeliaran dan membunuh orang lain lagi," pinta Paula. (Albert Batlayeri)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel